JUST WANNA TELL YOU SUMN

Trenggalek, ya... Mungkin beberapa dari Anda belum pernah mendengar nama kota kecil itu. Beberapa teman kerja saya baik dulu atau sekarang, kalau mendengar nama kabupaten itu jawabannya "Hah??? Itu dimana?" Dan setelah saya menjelaskan kalau Trenggalek berlokasi di dekat Kabupaten Tulungagung, Pacitan, dan Ponorogo, barulah mereka "ooooh....".


Saya menghabiskan masa kecil saya di kota kecil tersebut sebelum kemudian merantau untuk melanjutkan pendidikan di Kota Apel, Malang. Dari kecil saya suka membayangkan kalau suatu saat nanti ketika saya sudah besar, saya akan bekerja di kota besar dimana banyak gedung-gedung menjulang tinggi yang ketika malam city light-nya dapat menyihir mata. Tapi di sisi lain, saya juga membayangkan betapa akan tenangnya hidup ketika kelak nanti setelah beranjak dewasa menetap di kota kelahiran yang udaranya sejuk dan bersih, terhindar dari ruwetnya kota besar, dan yang paling penting dekat dengan orang tua dan keluarga.

Trenggalek (the actual view are way more beautiful)   
                                               
Ketika kemudian saya melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Kota Malang, mengenal kawan-kawan baru, dan tentunya mendapatkan ilmu-ilmu baru, keinginan untuk tidak langsung kembali ke kota kelahiran semakin kuat. Saat ada kesempatan mengunjungi ibukota di tahun kedua saya kuliah, saya pun tersihir dengan kota tersebut. Sebenarnya itu bukan pertama kalinya saya melihat langsung kota Jakarta alih-alih hanya melihatnya di layar kaca. Saat masih di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah, saya memiliki kesempatan untuk melihat gedung-gedung pencakar langit di sana meskipun hanya sekelumit melalui jendela bus antarprovinsi yang saat itu mengantarkan saya, emak, dan nenek ke Pelabuhan Merak. Entah karena janji-janji mimpi yang ditawarkan kota tersebut atau "alasan lain", kemudian muncul harapan di hati semoga kelak diberi kesempatan untuk mencari rezeki di sana. Bahkan, saya dan salah satu kawan saya yang saat itu dijuluki oleh kawan kami yang lain sebagai "the jackmania" (bukan karena kami supporter persija, tapi karena alasan lain yang tak usah saya sampaikan disini, xixixi), kerap kali membuat lirik "tunggulah aku di Jakartamu, tempat labuhan semua mimpiku" sebagai semboyan kami.

Singkat cerita, saat sudah lulus dari perguruan tinggi, saya tidak langsung bekerja di luar kota kelahiran. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di kota kelahiran meskipun juga kadang masih bolak-balik ke luar kota. Baru beberapa lama kemudian saya memiliki kesempatan untuk bekerja di luar kota, bahkan di luar pulau, yaitu Kota Batam. And i instantly fell in love with that city. Atmosfernya, mixed culture-nya, dan yang tak kalah penting, entah kenapa disana saya tidak merasakan sesak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit. Di Batam, saya menemukan kawan lagi, dan saya menemukan hati saya lagi yang sebelumnya saya kira sudah membatu. Sibuknya pekerjaan dan bergaul dengan kawan-kawan yang berbeda suku dan latar belakang membuat saya kembali berpikir bahwa hidup ini tak sesempit itu. Selama ini, saya yang sering merasa sesak ketika berada di kampung halaman kemudian mulai dapat bernafas lagi.

Batam <3

And then time flew by. Saat sudah waktunya Sang Pencipta Jagat Raya meminta saya untuk kembali ke kampung halaman, saya pun nurut, meskipun pada awalnya tentu saja diawali air mata. Masih ingat, saat itu salah satu kawan kerja saya memberikan hadiah tumbler warna hijau yang saat ini sudah pecah (Maafkan keteledoranku ini wahai teman). Saat sudah berada di kampung halaman, sesak itu kemudian datang lagi. Memang ya, some things are way more beautiful when we see it from afar. Ketika saya berada di Batam, saya sering bercerita kepada kawan saya bahwa enaknya kalau hidup di desa itu udaranya bersih, pemandangannya bagus, sawahnya luas, pagi-pagi bisa jalan-jalan sambil ditemani kabut dan embun, dan sebagainya. Saat saya kembali di desa, keindahan-keindahan itu masih ada, tapi mungkin hati dan otak saya yang sudah terlalu banyak menyimpan comberan yang membuat keindahan itu tertutupi. 

Pemandangan menuju rumah (again, this really doesn't do justice to the actual view)

Setelah kurang lebih satu tahun saya berada di kampung halaman, mencoba mengais rezeki sana-sini, tiba tiba Sang Maha Baik memberikan saya kesempatan lagi untuk mengunjungi Batam. Hmmm, senangnya hati ini bisa reunian lagi dengan kawan-kawan kerja dulu. Bahkan, saya sempet nginap di rumah salah satu kawan karena saking pengennya lebih banyak waktu untuk cerita ngalor-ngidul. Disana, kenyamanan dan ketenangan itu masih ada. Masih ada harapan-harapan kecil untuk memulai lagi kehiduoan yang tenang di kota itu. Bahkan saya sempat membujuk bapak saya agar diperbolehkan untuk melamar pekerjaan lagi di Batam, atau bahkan Singapura. Tapi nihil. Bapak tak merestui. 

Saat reuni, kami gak selfie atau wefie, yang difoto malah kocheng

Selang beberapa bulan kemudian, saya dapat kabar dari saudara yang ada di Jakarta bahwa saya mendapatkan panggilan untuk interview di tempat kerjanya, yang mana lamaran kerjanya sudah saya masukkan sejak saya masih berada di Jawa. Dan akhirnya, dengan hanya sedikit persiapan, saya terbang ke Jakarta dengan restu orang tua. Dan benar saja, restu orang tua memang manjur. Akhirnya saya diterima kerja di Jakarta meskipun pada saat interview saya sedikit ngang-ngong.

Setelah beberapa waktu bekerja di Jakarta, tetiba saya teringat manifestasi saya dulu saat masih kecil dan masih kuliah, yaitu untuk bekerja di kota besar, di gedung yang tinggi, dan memakai lanyard kece sambil nenteng berkas-berkas kantor. Hmm... Manifestasi itu saat ini menjadi nyata, meskipun tentu saja tidak semuanya, hehehe... Bayangan Ibukota yang traffic-nya sangat astaghfirullah dan cuacanya yang panas memang benar. Hal itu tidak terlalu saya rasakan sebelum-sebelumnya saat menjadi turis lokal di kota ini. Saat ini, saya sudah mulai terbiasa dengan kota ini. Dengan panasnya, dan dengan manusia-manusianya. Satu lagi, setelah hampir satu tahun saya bekerja di sini, semua terasa biasa saja. Tidak ada yang benar-benar "wah". Jangan salah paham, saya sangat bersyukur karena saya ditakdirkan untuk mendapatkan pekerjaan disini. Hanya saja, istilah "apa yang belum kita dapatkan selalu terlihat indah" memang benar adanya. 

Jakarta, saya tak pernah berpikir kalau ternyata kota ini kemudian banyak mengingatkan saya dengan kampung halaman. Dua kota yang sangat berbeda namun dua-duanya menyimpan satu hal yang sama. Harapan.

Comments

Popular Posts