Muhasabah
Sibuk itu palsu. Yang ada hanya prioritas. Jika kita
rela meluangkan waktu bertahun tahun untuk menempuh pendidikan tinggi untuk
ilmu dunia, maka sudah sejauh apa kita telah memprioritaskan ilmu akhirat?
Sering diri sendiri membatin, hari ini sibuk, capek, dengarkan kajian satu jam
aja "kalau sempat". NAH LHO, untuk ilmu akhirat saya bilang
"kalau sempat". Padahal untuk ilmu dunia rela lembur, rela mata
panda, rela hujan-hujanan!!!
Setiap hari, bahkan setiap detik disibukkan dengan
pikiran bagaimana naik level dalam urusan dunia. Cari pekerjaan yang mapan,
naik gaji, naik jabatan, dan sebagainya. Dunia memang perlu, tapi jangan sampai
lalai dengan naik level urusan akhirat. Ibadah bagaimana, selama ini shalat
sudah khusyu' atau belum, sudah tepat waktu apa belum, tilawah bagaimana. Kajian???
Hafalan??? Belum sunnah-sunnah lainnya. Dhuha, tahajjud, rawatib, dzikir pagi sore, puasa senin
kamis, ayyamul bidh. Duh, banyak loh. Parahnya lagi, lebih hafal artis-artis daripada sahabat dan sahabiyat nabi yang mulia.... Ya Rabb...
*selfreminder

Comments
Post a Comment